Syarat Pertumbuhan Jahe Merah
Jahe Merah : Merah bagian lapisan setelah kulit luarnya.
Klasifikasi tanaman jahe merah :
Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Species : Zingiber officinale
Jahe Merah
Jahe merah : Rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil dari pada jahe putih
kecil. sama seperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga
memiliki kandungan minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga cocok
untuk ramuan obat-obatan.
Rimpang
jahe dapat digunakan sebagai bumbu masak, pemberi aroma dan rasa pada makanan
seperti roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai.minuman. Jahe juga dapat
digunakan pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional, diolah
menjadi asinan jahe, dibuat acar, lalap, bandrek, sekoteng dan sirup. Dewasa
ini para petani cabe menggunakan jahe sebagai pestisida alami. Dalam
perdagangan jahe dijual dalam bentuk segar, kering, jahe bubuk dan awetan jahe.
Disamping itu terdapat hasil olahan jahe seperti: minyak astiri dan koresin
yang diperoleh dengan cara penyulingan yang berguna sebagai bahan pencampur
dalam minuman beralkohol, es krim, campuran sosis dan lain-lain.
Adapun
manfaat secara pharmakologi antara lain adalah sebagai karminatif (peluruh
kentut), anti muntah, pereda kejang, anti pengerasan pembuluh darah, peluruh
keringat, anti inflamasi, anti mikroba dan parasit, anti piretik, anti rematik,
serta merangsang pengeluaran getah lambung dan getah empedu.
SYARAT PERTUMBUHAN
Iklim
- Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi,
yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun.
- Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe
memerlukan sinar matahari. Dengan kata lain penanaman jahe dilakukan di
tempat yg terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari.
- Suhu udara optimum utk budidaya tanaman jahe antara
20-35°C.
Media Tanam
- Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah yg subur,
gembur & banyak mengandung humus.
- Tekstur tanah yg baik adalah lempung berpasir, liat berpasir
& tanah laterik.
- Tanaman jahe dapat tumbuh pada keasaman tanah (pH)
sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasaman tanah (pH) optimum utk jahe gajah adalah
6,8-7,0.
Ketinggian Tempat
- Jahe tumbuh baik di daerah tropis & subtropis
dengan ketinggian 0-2.000 m dpl..
- Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian 200 -
600 m dpl.
Sepintas Budidaya
Pembibitan Jahe
- Persyaratan Bibit Jahe : Bibit berkualitas adalah
bibit yg memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh
yg tinggi), & mutu fisik. yg dimaksud dengan mutu fisik adalah bibit
yg bebas hama & penyakit. Oleh karena itu kriteria yg harus dipenuhi
antara lain: Bahan bibit diambil langsung dari kebun (bukan dari pasar).
Dipilih bahan bibit dari tanaman yg sudah tua (berumur 9-10 bulan). Dipilih
pula dari tanaman yg sehat & kulit rimpang tidak terluka atau lecet.
- Teknik Penyemaian Bibit : utk pertumbuhan tanaman yg
serentak atau seragam, bibit jangan langsung ditanam sebaiknya terlebih
dahulu dikecambahkan. Penyemaian bibit dapat dilakukan dengan peti kayu
atau dengan bedengan.
- Penyemaian pada peti kayu : Rimpang jahe yg baru dipanen
dijemur sementara (tidak sampai kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5
bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan dimana setiap potongan
memiliki 3-5 mata tunas & dijemur ulang 1/2-1 hari. Selanjutnya
potongan bakal bibit tersebut dikemas ke dalam karung beranyaman jarang,
lalu dicelupkan dalam larutan fungisida & zat pengatur tumbuh sekitar
1 menit kemudian keringkan. Setelah itu dimasukkan kedalam peti kayu. Lakukan
cara penyemaian dengan peti kayu sebagai berikut: pada bagian dasar peti
kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian di atasnya diberi abu gosok
atau sekam padi, demikian seterusnya sehingga yg paling atas adalah abu
gosok atau sekam padi tersebut. Setelah 2-4 minggu lagi, bibit jahe
tersebut sudah disemai.
- Penyemaian pada bedengan : Buat rumah penyemaian
sederhana ukuran 10 x 8 m utk menanam bibit 1 ton (kebutuhan jahe gajah
seluas 1 ha). Di dalam rumah penyemaian tersebut dibuat bedengan dari tumpukan
jerami setebal 10 cm. Rimpang bakal bibit disusun pada bedengan jerami
lalu ditutup jerami, & di atasnya diberi rimpang lalu diberi jerami
pula, demikian seterusnya, sehingga didapatkan 4 susunan lapis rimpang
dengan bagian atas berupa jerami. Perawatan bibit pada bedengan dapat
dilakukan dengan penyiraman setiap hari & sesekali disemprot dengan
fungisida. Setelah 2 minggu, biasanya rimpang sudah bertunas. Bila bibit
bertunas dipilih agar tidak terbawa bibit berkualitas rendah..Bibit hasil
seleksi itu dipatah-patahkan dengan tangan & setiap potongan memiliki
3-5 mata tunas & beratnya 40-60 gram.
- Penyiapan Bibit Jahe : Sebelum ditanam, bibit harus
dibebaskan dari ancaman penyakit dengan cara bibit tersebut dimasukkan ke
dalam karung & dicelupkan ke dalam larutan fungisida sekitar 8 jam.
Kemudian bibit dijemur 2-4 jam, barulah ditanam.
Pengolahan Media Tanam
- Persiapan Lahan : utk mendapatkan hasil panen
yg optimal harus diperhatikan syarat-syarat tumbuh yg dibutuhkan tanaman
jahe. Bila keasaman tanah yg ada tidak sesuai dengan keasaman tanah yg
dibutuhkan tanaman jahe, maka harus ditambah atau dikurangi keasaman
dengan kapur.
- Pembukaan Lahan : Pengolahan tanah diawali
dengan dibajak sedalam kurang lebih dari 30 cm dengan tujuan utk
mendapatkan kondisi tanah yg gembur atau remah & membersihkan tanaman
pengganggu. Setelah itu tanah dibiarkan 2-4 minggu agar gas-gas beracun
menguap serta bibit penyakit & hama akan mati terkena sinar matahari.
Apabila pada pengolahan tanah pertama dirasakan belum juga gembur, maka
dapat dilakukan pengolahan tanah yg kedua sekitar 2-3 minggu sebelum tanam
& sekaligus diberikan pupuk kandang dengan dosis 1.500-2.500 kg.
- Pembentukan Bedengan : Pada daerah-daerah yg
kondisi air tanahnya jelek & sekaligus utk encegah terjadinya genangan
air, sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan engan ukuran tinggi
20-30 cm, lebar 80-100 cm, sedangkan anjangnya disesuaikan dengan kondisi
lahan.
- Pengapuran : Pada tanah dengan pH rendah,
sebagian besar unsur-unsur hara didalamnya, Terutama fosfor (p) &
calcium (Ca) dalam keadaan tidak tersedia atau sulit diserap. Kondisi
tanah yg masam ini dapat menjadi media perkembangan beberapa cendawan
penyebab penyakit fusarium sp & pythium sp. Pengapuran juga berfungsi
menambah unsur kalium yg sangat diperlukan tanaman utk mengeraskan bagian
tanaman yg berkayu, merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mempertebal
dinding sel buah & merangsang pembentukan biji.
Derajat keasaman < 4 (paling asam): kebutuhan dolomit > 10 ton/ha.
Derajat keasaman 5 (asam): kebutuhan
dolomit 5.5 ton/ha.
Derajat keasaman 6 (agak asam):
kebutuhan dolomit 0.8 ton/ha.
Teknik Penanaman Jahe.
- Penentuan Pola Tanaman : Pembudidayaan jahe secara
monokultur pada suatu daerah tertentu memang dinilai cukup rasional,
karena mampu memberikan produksi & produksi tinggi. Namun di daerah,
pembudidayaan tanaman jahe secara monokultur kurang dapat diterima karena
selalu menimbulkan kerugian. Penanaman jahe secara tumpangsari dengan
tanaman lain mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
Mengurangi kerugian yg disebabkan
naik turunnya harga. Menekan biaya kerja, seperti: tenaga kerja pemeliharaan
tanaman. Meningkatkan produktivitas lahan. Memperbaiki sifat fisik &
mengawetkan tanah akibat rendahnya pertumbuhan gulma (tanaman pengganggu).
Praktek di lapangan, ada jahe yg ditumpangsarikan dengan sayur-sayuran, seperti
ketimun, bawang merah, cabe rawit, buncis & lain-lain. Ada juga yg
ditumpangsarikan dengan palawija, seperti jagung, kacang tanah & beberapa
kacang-kacangan lainnya.
- Pembutan Lubang Tanam : utk menghindari pertumbuhan
jahe yg jelek, karena kondisi air tanah yg buruk, maka sebaiknya tanah
diolah menjadi bedengan-bedengan. Selanjutnya buat lubang-lubang kecil
atau alur sedalam 3-7,5 cm utk menanam bibit.
- Cara Penanaman : Cara penanaman dilakukan
dengan cara melekatkan bibit rimpang secara rebah ke dalam lubang tanam
atau alur yg sudah disiapkan.
- Perioda Tanam : Penanaman jahe sebaiknya
dilakukan pada awal musim hujan sekitar bulan September & Oktober. Hal
ini dimungkinkan karena tanaman muda akan membutuhkan air cukup banyak utk
pertumbuhannya.
Pemeliharaan Tanaman
- Penyulaman : Sekitar 2-3 minggu setelah
tanam, hendaknya diadakan utk melihat rimpang yg mati. Bila demikian harus
segera dilaksanakan penyulaman agar pertumbuhan bibit sulaman itu tidak
jauh tertinggal dengan tanaman lain, maka sebaiknya dipilih bibit rimpang
yg baik serta pemeliharaan yg benar.
- Penyiangan : Penyiangan pertama dilakukan
ketika tanaman jahe berumur 2-4 minggu kemudian dilanjutkan 3-6 minggu
sekali. Tergantung pada kondisi tanaman pengganggu yg tumbuh. Namun
setelah jahe berumur 6-7 bulan, sebaiknya tidak perlu dilakukan penyiangan
lagi, sebab pada umur tersebut rimpangnya mulai besar..
- Pembubunan : Tanaman jahe memerlukan
tanah yg peredaran udara & air dapat berjalan dengan baik, maka tanah
harus digemburkan. Disamping itu tujuan pembubunan utk menimbun rimpang
jahe yg kadang-kadang muncul ke atas permukaan tanah. Apabila tanaman jahe
masih muda, cukup tanah dicangkul tipis di sekeliling rumpun dengan jarak
kurang lebih 30 cm. Pada bulan berikutnya dapat diperdalam &
diperlebar setiap kali pembubunan akan berbentuk gubidan & sekaligus
terbentuk sistem pengairan yg berfungsi utk menyalurkan kelebihan air.
Pertama kali dilakukan pembumbunan pada waktu tanaman jahe berbentuk
rumpun yg terdiri atas 3-4 batang semu, umumnya pembubunan dilakukan 2-3
kali selama umur tanaman jahe. Namun tergantung kepada kondisi tanah &
banyaknya hujan.
- Pemupukan :
- Pemupukan Organik : Pada pertanian
organik yg tidak menggunakan bahan kimia termasuk pupuk buatan &
obat-obatan, maka pemupukan secara organik yaitu dengan menggunakan pupuk
kompos organik atau pupuk kandang dilakukan lebih sering disbanding kalau
kita menggunakan pupuk buatan. Adapun pemberian pupuk kompos organik ini
dilakukan pada awal pertanaman pada saat pembuatan guludan sebagai pupuk
dasar sebanyak 60 – 80 ton per hektar yg ditebar & dicampur tanah
olahan. utk menghemat pemakaian pupuk kompos dapat juga dilakukan dengan jalan
mengisi tiap-tiap lobang tanam di awal pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg per
tanaman. Pupuk sisipan selanjutnya dilakukan pada umur 2 – 3 bulan, 4 – 6
bulan, & 8 – 10 bulan. Adapun dosis pupuk sisipan sebanyak 2 – 3 kg
per tanaman. Pemberian pupuk kompos ini biasanya dilakukan setelah
kegiatan penyiangan & bersamaan dengan kegiatan pembubunan.
- Pemupukan Konvensional : Selain
pupuk dasar (pada awal penanaman), tanaman jahe perlu diberi pupuk susulan
kedua (pada saat tanaman berumur 2-4 bulan). Pupuk dasar yg digunakan
adalah pupuk organik 15-20 ton/ha. Pemupukan tahap kedua digunakan pupuk
kandang & pupuk buatan (urea 20 gram/pohon; TSP 10 gram/pohon; &
ZK 10 gram/pohon), serta K2O (112 kg/ha) pada tanaman yg berumur 4 bulan.
Pemupukan juga dilakukan dengan pupuk nitrogen (60 kg/ha), P2O5 (50
kg/ha), & K2O (75 kg/ha). Pupuk P diberikan pada awal tanam, pupuk N
& K diberikan pada awal tanam (1/3 dosis) & sisanya (2/3 dosis)
diberikan pada saat tanaman berumur 2 bulan & 4 bulan. Pupuk diberikan
dengan ditebarkan secara merata di sekitar tanaman atau dalam bentuk alur
& ditanam di sela-sela tanaman.
- Pengairan & Penyiraman : Tanaman Jahe tidak
memerlukan air yg terlalu banyak utk pertumbuhannya, akan tetapi pada awal
masa tanam diusahakan penanaman pada awal musim hujan sekitar bulan
September;
- Waktu Penyemprotan Pestisida : Penyemprotan pestisida
sebaiknya dilakukan mulai dari saat penyimpanan bibit yg utk disemai &
pada saat pemeliharaan. Penyemprotan pestisida pada fase pemeliharaan
biasanya dicampur dengan pupuk organik cair atau vitamin-vitamin yg
mendorong pertumbuhan jahe.
HAMA & PENYAKIT
Hama
Tanaman Jahe
Kepik,
menyerang daun tanaman hingga berlubang-lubang. Ulat penggesek akar, menyerang
akar tanaman jahe hingga menyebabkan tanaman jahe menjadi kering & mati.
Kumbang.
Penyakit Tanaman Jahe Penyakit layu bakeri
Gejala:
Mula-mula helaian daun bagian bawah melipat & menggulung kemudian terjadi
perubahan warna dari hijau menjadi kuning & mengering. Kemudian tunas
batang menjadi busuk & akhirnya tanaman mati rebah. Bila diperhatikan,
rimpang yg sakit itu berwarna gelap & sedikit membusuk, kalau rimpang
dipotong akan keluar lendir berwarna putih susu sampai kecoklatan. Penyakit ini
menyerang tanaman jahe pada umur 3-4 bulan & yg paling berpengaruh adalah
faktor suhu udara yg dingin, genangan air & kondisi tanah yg terlalu
lembab.
Pengendalian:
jaminan kesehatan bibit jahe; karantina tanaman jahe yg terkena
penyakit; pengendalian dengan pengolahan tanah yg baik; pengendalian
fungisida dithane M-45 (0,25%), Bavistin (0,25%)
Penyakit
busuk rimpang
Penyakit ini dapat masuk ke bibit rimpang jahe melalui lukanya. Ia akan tumbuh
dengan baik pada suhu udara 20-25 derajat C & terus berkembang
akhirnya menyebabkan rimpang menjadi busuk.
Gejala:
Daun bagian bawah yg berubah menjadi kuning lalu layu & akhirnya tanaman
mati.
Pengendalian:penggunaan bibit yg sehat; penerapan pola tanam yg baik;
penggunaan fungisida.
Penyakit
bercak daun
Penyakit ini dapat menular dengan bantuan angin, akan masuk melalui luka maupun
tanpa luka.
Gejala:
Pada daun yg bercak-bercak berukuran 3-5 mm, selanjutnya bercak-bercak itu
berwarna abu-abu & ditengahnya terdapat bintik-bintik berwarna hitam,
sedangkan pinggirnya busuk basah. Tanaman yg terserang bisa mati.
Pengendalian:
baik tindakan pencegahan maupun penyemprotan penyakit bercak daun sama halnya
dengan cara-cara yg dijelaskan di atas.
Gulma
Gulma potensial pada pertanaman temu lawak adalah gulma kebun antara lain
adalah rumput teki, alang-alang, ageratum, & gulma berdaun lebar lainnya.
Pengendalian
hama/penyakit secara organik
Dalam
pertanian organik yg tidak menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya melainkan
dengan bahan-bahan yg ramah lingkungan biasanya dilakukan secara terpadu sejak
awal pertanaman utk menghindari serangan hama & penyakit tersebut yg
dikenal dengan PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yg komponennya adalah sbb:
- Mengusahakan pertumbuhan
tanaman yg sehat yaitu memilih bibit unggul yg sehat bebas dari hama &
penyakit serta tahan terhadap serangan hama dari sejak awal pertanaman
- Memanfaatkan semaksimal mungkin
musuh-musuh alami
- Menggunakan varietas-varietas
unggul yg tahan terhadap serangan hama & penyakit.
- Menggunakan pengendalian
fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.
- Menggunakan teknik-teknik
budidaya yg baik misalnya budidaya tumpang sari dengan pemilihan tanaman
yg saling menunjang, serta rotasi tanaman pada setiap masa tanamnya utk
memutuskan siklus penyebaran hama & penyakit potensial.
- Penggunaan pestisida,
insektisida, herbisida alami yg ramah lingkungan & tidak menimbulkan residu
toksik baik pada bahan tanaman yg dipanen ma maupun pada tanah. Disamping
itu penggunaan bahan ini hanya dalam keadaan darurat berdasarkan aras
kerusakan ekonomi yg diperoleh dari hasil pengamatan.
Beberapa tanaman yg dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati & digunakan
dalam pengendalian hama antara lain adalah:
- Tembakau (Nicotiana tabacum) yg mengandung nikotin utk
insektisida kontak sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi utk serangga
kecil misalnya Aphids.
- Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yg mengandung
piretrin yg dapat digunakan sebagai insektisida sistemik yg menyerang urat
syaraf pusat yg aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga
seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, & lalat buah.
- Tuba (Derris elliptica & Derris malaccensis) yg
mengandung rotenone utk insektisida kontak yg diformulasikan dalam bentuk
hembusan dan semprotan.
- Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) yg mengandung
azadirachtin yg bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama
pada serangga penghisap seperti wereng & serangga pengunyah seperti
hama penggulung daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif
utk menanggulangi serangan virus RSV, GSV & Tungro.
- Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yg bijinya mengandung
rotenoid yaitu pakhirizida yg dapat digunakan sebagai insektisida &
larvasida.
- Jeringau (Acorus calamus) yg rimpangnya mengandung
komponen utama asaron & biasanya digunakan utk racun serangga &
pembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.
PANEN
- Ciri & Umur Panen Jahe: Pemanenan dilakukan
tergantung dari penggunaan jahe itu sendiri. Bila kebutuhan utk bumbu
penyedap masakan, maka tanaman jahe sudah bisa ditanam pada umur kurang
lebih 4 bulan dengan cara mematahkan sebagian rimpang & sisanya
dibiarkan sampai tua. Apabila jahe utk dipasarkan maka jahe dipanen
setelah cukup tua. Umur tanaman jahe yg sudah bisa dipanen antara 10-12
bulan, dengan ciri-ciri warna daun berubah dari hijau menjadi kuning &
batang semua mengering. Misal tanaman jahe gajah akan mengering pada umur 8
bulan & akan berlangsung selama 15 hari atau lebih.
- Cara Panen : Cara panen yg baik, tanah
dibongkar dengan hati-hati menggunakan alat garpu atau cangkul, diusahakan
jangan sampai rimpang jahe terluka. Selanjutnya tanah & kotoran
lainnya yg menempel pada rimpang dibersihkan & bila perlu dicuci.
Sesudah itu jahe dijemur di atas papan atau daun pisang kira-kira selama 1
minggu. Tempat penyimpanan harus terbuka, tidak lembab & penumpukannya
jangan terlalu tinggi melainkan agak disebar.
- Periode Panen. : Waktu panen sebaiknya
dilakukan sebelum musim hujan, yaitu diantara bulan Juni – Agustus. Saat
panen biasanya ditandai dengan mengeringnya bagian atas tanah. Namun
demikian apabila tidak sempat dipanen pada musim kemarau tahun pertama ini
sebaiknya dilakukan pada musim kemarau tahun berikutnya. Pemanenan pada
musim hujan menyebabkan rusaknya rimpang & menurunkan kualitas rimpang
sehubungan dengan rendahnya bahan aktif karena lebih banyak kadar airnya.
- Perkiraan Hasil Panen : Produksi rimpang segar utk
klon jahe gajah berkisar antara 15-25 ton/hektar, sedangkan utk klon jahe
emprit atau jahe sunti berkisar antara 10-15 ton/hektar.
PASCAPANEN
- Penyortiran Basah &
Pencucian
: Sortasi pada bahan segar dilakukan utk memisahkan rimpang dari kotoran
berupa tanah, sisa tanaman, & gulma. Setelah selesai, timbang jumlah
bahan hasil penyortiran & tempatkan dalam wadah plastik utk pencucian.
Pencucian dilakukan dengan air bersih, jika perlu disemprot dengan air
bertekanan tinggi. Amati air bilasannya & jika masih terlihat kotor
lakukan pembilasan sekali atau dua kali lagi. Hindari pencucian yg terlalu
lama agar kualitas & senyawa aktif yg terkandung didalam tidak larut
dalam air. Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah
tercemar kotoran & banyak mengandung bakteri/penyakit. Setelah
pencucian selesai, tiriskan dalam tray/wadah yg belubang-lubang agar sisa
air cucian yg tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam
wadah plastik/ember.
- Perajangan : Jika perlu proses
perajangan, lakukan dengan pisau stainless steel & alasi bahan yg akan
dirajang dengan talenan. Perajangan rimpang dilakukan melintang dengan
ketebalan kira-kira 5 mm – 7 mm. Setelah perajangan, timbang hasilnya
& taruh dalam wadah plastik/ember. Perajangan dapat dilakukan secara
manual atau dengan mesin pemotong.
- Pengeringan : Pengeringan dapat dilakukan
dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari atau alat pemanas/oven.
pengeringan rimpang dilakukan selama 3 - 5 hari, atau setelah kadar airnya
dibawah 8%. pengeringan dengan sinar matahari dilakukan diatas tikar atau
rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling menumpuk. Selama
pengeringan harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam sekali agar
pengeringan merata. Lindungi rimpang tersebut dari air, udara yg lembab
& dari bahan-bahan disekitarnya yg bisa mengkontaminasi..Pengeringan
di dalam oven dilakukan pada suhu 50 ° C - 60 ° C. Rimpang yg akan
dikeringkan ditaruh di atas tray oven & pastikan bahwa rimpang tidak
saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang jumlah rimpang yg dihasilkan
- Penyortiran Kering. : Selanjutnya lakukan sortasi
kering pada bahan yg telah dikeringkan dengan cara memisahkan bahan-bahan
dari benda-benda asing seperti kerikil, tanah atau kotoran-kotoran lain.
Timbang jumlah rimpang hasil penyortiran ini (untuk menghitung
rendemennya).
- Pengemasan : Setelah bersih, rimpang yg
kering dikumpulkan dalam wadah kantong plastik atau karung yg bersih &
kedap udara (belum pernah dipakai sebelumnya). Berikan label yg jelas pada
wadah tersebut, yg menjelaskan nama bahan, bagian dari tanaman bahan itu,
nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih & metode
penyimpanannya.
- Penyimpanan : Kondisi gudang harus dijaga
agar tidak lembab & suhu tidak melebihi 30 ° C & gudang harus
memiliki ventilasi baik & lancar, tidak bocor, terhindar dari
kontaminasi bahan lain yg menurunkan kualitas bahan yg bersangkutan,
memiliki penerangan yg cukup (hindari dari sinar matahari langsung), serta
bersih & terbebas dari hama gudang.
BP4K Kabupaten Gresik
Email : Bapeluhgresik@yahoo.co.id
Office : Jl. Dr. Wahidin
Sudirohusodo No. 245 Gresik – Jawa Timur
Phone Office : (031)51164000
Phone : 081216066666 ( Ir.
Hermanu Ekamto, MMA )
085648492042 ( Husni Mubarak, SP )
Budidaya Jahe dalam Polybag
Budidaya Jahe dalam Polybag/Karung, Hasil Berlipat Ganda
Usaha budidaya jahe saat ini semakin digemari, karena hanya
dengan modal sedikit dapat menghasilkan keuntungan yang cukup besar. Apalagi
dengan dikembangkannya budidaya jahe dengan memanfaatkan lahan sempit dengan
media tanam menggunakan polybag atau memanfaatkan karung bekas. Hasil panen per
karung/polybag besar bisa mencapai 25 kg per-karung/polybag.
Bina Agro Mandiri menyediakan bibit jahe merah, jahe emprit dan
jahe gajah dengan harga Rp.2000 per bibit. Jika ingin lebih menghemat anggaran
anda bisa membeli rimpang bibit dan menyemainya sendiri karena tidak terlalu
sulit. Rimpang jahe yang digunakan sebagai bibit tersebut sudah terpilih baik
dari segi usia (minimal 12 bulan), maupun kualitas rimpangnya (tidak gembos).
BOKASHI, Media Tanam Ideal untuk Budidaya Jahe Sistem Polybag
Tingginya harga pupuk kimia buatan dan kelangkaan pupuk di
sejumlah wilayah saat ini sangat meresahkan para petani. Sejumlah petani di
beberapa daerah bahkan telah mulai melirik jenis pupuk lain sebagai pengganti
pupuk kimia buatan yang biasa digunakan. Salah satu jenis pupuk yang dapat
menggantikan kehadiran pupuk kimia buatan adalah Bokashi atau pupuk Jepang,
yang bisa kita buat sendiri.
Bokashi adalah hasil fermentasi bahan-bahan organik seperti
sekam, serbuk gergajian, jerami, kotoran hewan dan lain-lain. Bahan-bahan
tersebut difermentasikan dengan bantuan mikroorganisme aktivator yang
mempercepat proses fermentasi. Campuran mikroorganisme yang digunakan untuk
mempercepat fermentasi dikenal sebagai effective microorganism (EM). Penggunaan
EM tidak hanya mempercepat proses fermentasi tetapi juga menekan bau yang
biasanya muncul pada proses penguraian bahan organik.
CARA MEMBUAT BOKASHI (untuk 1 ton)
Bokashi Padat
Bahan:
§ Hijauan daun 200 kg (hijauan daun, sisa
sayuran, jerami, sekam, dll)Ø
§ Pupuk kandang 750 kg (kotoran kambing, ayam,
sapi, dll)Ø
§ Dedak/bekatul 50 kgØ
§ EM-4 1 literØ
§ Larutan gula pasir, 1 kg per 10 liter airØ
§ Air secukupnyaØ
Tahapan Pembuatan:
§ Potong sampah basah
(3-5 cm), kecuali jika menggunakan sekam
§ Campurkan Sampah
basah – pupuk kandang – dedak/bekatul, hingga rata
§ Larutkan EM-4 + Air
gula ke dalam 200 liter air.
§ Siramkan larutan
secara perlahan secara merata ke dalam campuran sampah basah-kotoran-dedak.
Lakukan hingga kandungan air di adonan mencapai 30 – 40 %. Tandanya, bila
campuran dikepal, air tidak keluar dan bila kepalan dibuka, adonan tidak buyar.
§ Hamparkan adonan di
atas lantai kering dengan ketebalan 15 – 20 cm, lalu tutup dengan karung goni
atau terpal selama 5 – 7 hari.
§ Agar suhu adonan
tidak terlalu panas akibat fermentasi yang terjadi, adonan diaduk setiap hari
hingga suhu dapat dipertahankan pada kisaran 45 – 50 derajad Celsius.
§ Setelah satu
minggu, pupuk bokashi siap digunakan.
Pembibitan Jahe dari Rimpang
Proses pembibitan jahe merah/emprit/gajah dengan menggunakan rimpang bibit,
diawali dengan mencelupkan rimpang bibit ke dalam larutan Pestisida, Herbisida,
Fungisida Organik Cair (PHOC BINAGRO) selama 15 menit lalu keringkan. (Larutkan
1 tutup PHOC BINAGRO ke dalam 14 liter air, tambahkan 2 sendok makan gula
pasir, diamkan selama 15 menit, larutan PHOC BINAGRO telah siap untuk
digunakan).
Rendam kembali dengan zat pengatur tumbuh Suplemen Organic
Tanaman (SOT) BINAGRO sekitar 6 jam. ( Larutkan 5 tutup SOT BINAGRO dengan 14
liter air, tambah 2-3 sendok makan gula pasir, diamkan terlebih dahulu selama
15 menit), larutan siap digunakan. Setelah perendaman lalu tiriskan sampe
kering. Benih telah siap disemaikan.
Keuntungan Menggunakan SOT BINAGRO
SOT BINAGRO merupakan larutan yang mengandung puluhan jenis
mikroba pilihan sehingga mampu meningkatkan produksi panen lebih besar dari
sebelumnya karena berfungsi memperkuat jaringan pada akar dan batang dan juga
dapat mencegah atau mengurangi tingkat gugur bunga maupun buah.
Selain itu, SOT BINAGRO juga memiliki fungsi:
§ Meningkatkan jumlah
tunas hingga 200%
§ Memperkuat jaringan
akar dan batang.
§ Meningkatkan hasil
panen hingga 80%.
§ Meningkatkan daya
tahan tanaman terhadap berbagai jamur dan penyakit lainnya.
§ Mempercepat panen
untuk tanaman semusim.
§ Mengendalikan hama.
§ Penanaman Bibit
Jahe Merah/Gajah/Emprit.
Dalam penanaman tidak ada cara khusus, siapkan media tanam dan
polybag atau karung bekas. Setelah ditanam siram secukupnya dan jangan langsung
diletakan pada ruangan terbuka. Setelah umur lebih 2 bulan bisa ditempatkan ke
ruangan terbuka karena tanaman jahe merah ini akan bagus jika ditempatkan di
ruangan terbuka dengan intesitas sinar matahari yang cukup tinggi.
Perawatan tanaman jahe ini cukup dengan melakukan penyiraman
setiap 2 hari dan pemberian pupuk setiap 2 bulan sekali. Setelah umur
8 bulan tanaman jahe sudah dapat dipanen. Menanam jahe merah/gajah/emprit
dengan media karung atau polybag tidak ribet dan tidak memakan tempat besar namun
hasilnya cukup tinggi. Misalnya jika menggunakan tanah di kebun, hasil
yang didapat untuk satu rumpunnya hanya 1-5 kg, sementara dengan
menggunakan media karung/polybag hasilnya bisa lebih dari 20 kg.
Keuntungan lainnya, waktu tanam menggunakan media karung atau
polybag lebih singkat, hanya 8-10 bulan. Sementara di dalam lahan kebun harus
lebih dari satu tahun. Selain itu, lahan di kebun kurang bagus jika
terus-terusan ditanam jahe, kualitas tanah akan berkurang, panas, dan unsur
haranya habis.
Keuntungan menggunakan karung atau polybag simpel.
Adapun estimasi pengeluaran dan hasilnya:
Misalnya untuk satu karung diisi cukup dengan satu tunas saja maka dalam
waktu 8 hingga 10 bulan atau paling lama 1 tahun, bisa menghasilkan minimal 20
kg. Keuntungannya bisa dihitung sendiri, harga per kilogram jahe yang cukup
tinggi dikalikan dengan jumlah karung yang tersedia.
Faktor yang Menyebabkan Budidaya Jahe Menguntungkan
Beberapa hal yang menjadi faktor menguntungkan atau mendukung keberhasilan
budidaya jahe merah:
1.
Permintaan terhadap berbagai jenis jahe, baik Jahe Merah, Jahe
Gajah maupun Jahe Emprit masih cukup tinggi, baik untuk kebutuhan dalam negeri
maupun luar negeri.
2.
Tanaman Jahe bisa tumbuh pada ketinggian 0 – 2.000 m.dpl.
sehingga cakupan tempat budidaya relatif luas.
3.
Teknis budidaya relatif mudah, dengan menggunakan media tanam di
dalam polybag ataupun karung bisa dilakukan.
4.
Harga jual jahe merah menurut perkembangan pasar saat ini nilai
ekonomi olahan lebih tinggi dibanding harga jahe mentah.
5.
Belum begitu banyak yang melakukan budidaya jahe.
6.
Biaya yang harus dikeluarkan relatif rendah. Kita hanya perlu
menyediakan polybag atau karung, tanah, pupuk, dan bibit serta biaya
pemeliharaan yang tidak begitu besar, apalagi bila dilakukan oleh kita sendiri.
Menyediakan:
- Bibit Jahe Rimpang maupun yang sudah tumbuh
- Polybag
- Bokashi




Komentar
Posting Komentar